Mabit di Muzdalifah dan Mina menjadi salah satu rangkaian penting dalam ibadah haji yang wajib dipahami setiap jemaah. Selain berkaitan dengan kesempurnaan manasik, mabit juga memiliki nilai spiritual mendalam sebagai bentuk ketundukan dan penghambaan kepada Allah SWT.
Secara bahasa, mabit berarti bermalam. Dalam istilah fikih haji, mabit adalah bermalam atau singgah di Muzdalifah dan Mina sesuai ketentuan syariat dalam rangkaian ibadah haji.
Mabit di Muzdalifah dilakukan setelah wukuf di Arafah pada malam 10 Zulhijah, sedangkan mabit di Mina dilaksanakan pada malam-malam hari tasyrik setelah Idul Adha.
Hukum Mabit di Muzdalifah
Mayoritas ulama berpendapat bahwa mabit di Muzdalifah hukumnya wajib dalam pelaksanaan haji. Namun, sebagian ulama lain menyebut hukumnya sunnah.
Mabit dianggap sah apabila jemaah telah berada di kawasan Muzdalifah hingga melewati tengah malam, meskipun hanya sesaat. Selama berada di sana, jemaah dianjurkan memperbanyak talbiyah, zikir, doa, istighfar, dan membaca Al-Qur’an.
Ketentuan Mabit di Muzdalifah
Berikut beberapa ketentuan penting terkait mabit di Muzdalifah:
- Dilaksanakan setelah wukuf di Arafah pada malam 10 Zulhijah.
- Jemaah dianjurkan bermalam hingga menjelang Subuh sebelum berangkat ke Mina.
- Lansia, disabilitas, jemaah sakit, atau risiko tinggi mendapat keringanan.
- Pemerintah Indonesia menerapkan skema murur untuk mengurangi kepadatan.
Skema Murur dan Tanazul
Dalam beberapa musim haji terakhir, pemerintah menerapkan skema murur bagi jemaah lansia, risiko tinggi, dan disabilitas.
Melalui skema ini, jemaah cukup melintas di kawasan Muzdalifah menggunakan bus tanpa turun, lalu langsung menuju Mina. Kebijakan ini dilakukan demi menjaga keselamatan jemaah.
Selain itu, terdapat pula skema tanazul, yaitu jemaah tertentu diberangkatkan langsung menuju hotel di Makkah tanpa mabit di Muzdalifah maupun Mina dan tidak dikenakan dam.
Hikmah Mabit di Muzdalifah
Muzdalifah berasal dari kata izdilaf yang berarti mendekat atau berkumpul. Tempat ini memiliki banyak hikmah spiritual bagi jemaah haji.
1. Mendekatkan Diri kepada Allah SWT
Muzdalifah menjadi tempat memperbanyak zikir dan doa setelah menjalani wukuf di Arafah.
2. Memperbanyak Doa dan Istighfar
Suasana malam di Muzdalifah menjadi momentum bermunajat dan memperkuat hubungan spiritual kepada Allah SWT.
3. Melatih Kebersamaan
Jutaan jemaah berkumpul dalam satu tempat, mengajarkan kesabaran dan kepedulian terhadap sesama muslim.
4. Persiapan Menuju Mina
Mabit menjadi persiapan lahir dan batin sebelum melaksanakan lempar jumrah di Mina.
Hukum Mabit di Mina
Mabit di Mina dilakukan pada malam-malam hari tasyrik, yakni tanggal 11 hingga 12 Zulhijah bagi nafar awal dan hingga 13 Zulhijah bagi nafar tsani.
Mayoritas ulama seperti Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad menyatakan hukum mabit di Mina adalah wajib. Sementara Imam Abu Hanifah berpendapat hukumnya sunnah.
Ketentuan Mabit di Mina
Beberapa ketentuan mabit di Mina antara lain:
- Mabit sah jika jemaah berada di Mina lebih dari separuh malam.
- Jemaah yang meninggalkan mabit tanpa uzur dapat dikenakan dam.
- Perluasan kawasan Mina tetap dianggap sah oleh para ulama.
- Jemaah lansia, sakit, atau disabilitas dapat mengikuti program tanazul.
Ketentuan Dam
Menurut mayoritas ulama:
- Tidak mabit satu malam: wajib membayar satu mud.
- Tidak mabit dua malam: wajib dua mud.
- Tidak mabit tiga malam: wajib dam berupa seekor kambing.
Hikmah Mabit di Mina
Mina bukan sekadar lokasi bermalam, tetapi juga tempat penuh sejarah perjuangan para nabi.
1. Mengingat Padang Mahsyar
Padatnya Mina menggambarkan suasana berkumpulnya manusia di akhirat kelak.
2. Tempat Mustajab untuk Berdoa
Mina menjadi lokasi para nabi bermunajat kepada Allah SWT, termasuk Nabi Muhammad SAW.
3. Simbol Ketaatan Nabi Ibrahim AS
Peristiwa penyembelihan Nabi Ismail AS menjadi simbol ketundukan total kepada Allah SWT.
4. Tempat Penyembelihan Kurban dan Dam
Mina menjadi pusat pelaksanaan penyembelihan hewan kurban saat Idul Adha.
5. Melatih Kesabaran dan Keikhlasan
Kondisi padat dan aktivitas ibadah mengajarkan jemaah untuk bersabar, disiplin, dan ikhlas.
Penutup
Memahami hukum dan ketentuan mabit di Muzdalifah serta Mina sangat penting bagi jemaah haji agar ibadah berjalan sesuai tuntunan syariat. Selain sebagai bagian dari manasik, mabit juga menjadi momen spiritual untuk memperkuat ketakwaan dan ketundukan kepada Allah SWT.