Tanggal 10 Muharram atau yang dikenal sebagai Hari Asyura merupakan salah satu hari yang memiliki keistimewaan dalam kalender Islam. Setiap tahun, jutaan umat Islam di berbagai negara melaksanakan puasa Asyura sebagai bentuk mengikuti sunnah Rasulullah SAW.
Namun, di balik ibadah tersebut, Hari Asyura juga menyimpan sejarah panjang yang telah dikenal sejak masa para nabi terdahulu.
Diselamatkannya Nabi Musa AS dan Bani Israil
Peristiwa paling masyhur yang berkaitan dengan Hari Asyura adalah keselamatan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Fir’aun.
Allah SWT membelah Laut Merah sehingga Nabi Musa AS dan pengikutnya dapat menyeberang dengan selamat. Sementara Fir’aun dan pasukannya tenggelam ketika mencoba mengejar mereka.
Sebagai bentuk rasa syukur atas pertolongan Allah SWT, Nabi Musa AS berpuasa pada hari tersebut.
Rasulullah SAW Berpuasa pada Hari Asyura
Ketika tiba di Madinah, Rasulullah SAW mendapati kaum Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharram.
Setelah mengetahui alasan mereka, Rasulullah SAW bersabda bahwa umat Islam lebih berhak mengikuti ajaran Nabi Musa AS. Beliau kemudian berpuasa dan menganjurkan para sahabat untuk berpuasa.
Keutamaan Puasa Asyura
Hari Asyura menjadi semakin istimewa karena puasa yang dilakukan pada hari tersebut memiliki pahala yang besar.
Rasulullah SAW bersabda bahwa beliau berharap Allah SWT menghapus dosa-dosa kecil selama satu tahun yang lalu bagi orang yang berpuasa Asyura.
Karena itulah puasa Asyura menjadi salah satu ibadah sunnah yang paling dianjurkan pada bulan Muharram.
Momentum Muhasabah Diri
Selain menjadi bagian dari sejarah Islam, Hari Asyura juga dapat menjadi momen refleksi bagi umat Islam untuk meningkatkan ketakwaan dan rasa syukur kepada Allah SWT.
Kesimpulan
Hari Asyura bukan sekadar tanggal dalam kalender Hijriah. Hari ini mengingatkan umat Islam tentang pertolongan Allah kepada para nabi, pentingnya rasa syukur, serta keutamaan menjalankan puasa sunnah yang diajarkan Rasulullah SAW.