Bagi banyak orang, melihat Ka’bah secara langsung merupakan salah satu momen yang paling dinantikan dalam perjalanan umrah. Bangunan yang selama ini hanya terlihat melalui foto dan tayangan televisi akhirnya berdiri di hadapan mata. Tidak sedikit jamaah yang menitikkan air mata, terdiam, atau spontan mengangkat kedua tangan untuk berdoa.
Perasaan tersebut sangat wajar. Setelah mempersiapkan perjalanan, mengurus dokumen, menempuh penerbangan panjang, dan meninggalkan keluarga di rumah, jamaah akhirnya tiba di Masjidil Haram.
Pada momen itu, muncul pertanyaan yang sering dibicarakan calon jamaah: apakah ada doa khusus ketika pertama kali melihat Ka’bah? Benarkah semua doa yang dipanjatkan pada saat tersebut pasti dikabulkan Allah?
Pertanyaan ini perlu dijawab dengan hati-hati. Ada riwayat tentang doa ketika melihat Ka’bah yang dibahas dalam literatur Islam. Namun, para ulama memiliki penilaian berbeda mengenai kekuatan sebagian riwayat tersebut. Karena itu, jamaah perlu membedakan antara doa yang boleh dipanjatkan, bacaan yang diriwayatkan, dan klaim bahwa suatu doa pasti dikabulkan pada waktu tertentu.
Dengan memahami perbedaannya, jamaah dapat memanfaatkan momen pertama melihat Ka’bah untuk berdoa dengan tenang tanpa merasa harus menghafal bacaan tertentu.
1. Apakah Ada Doa Khusus Ketika Pertama Kali Melihat Ka’bah?
Pertanyaan ini sering muncul dalam persiapan umrah. Sebagian jamaah mendapat informasi bahwa ada satu doa khusus yang harus dibaca saat melihat Ka’bah untuk pertama kali. Ada pula yang meyakini bahwa seluruh permintaan pada saat itu pasti dikabulkan.
Kedua informasi tersebut perlu dibedakan.
Seorang Muslim tentu boleh berdoa ketika melihat Ka’bah. Bahkan, momen tersebut dapat dimanfaatkan untuk memohon ampunan, kesehatan, kemudahan ibadah, dan kebaikan bagi keluarga.
Namun, klaim bahwa ada doa tertentu yang wajib dibaca atau semua permintaan pasti dikabulkan pada saat pertama melihat Ka’bah membutuhkan dasar yang jelas.
Dalam pembahasan fikih yang dimuat oleh IslamQA, dijelaskan bahwa tidak terdapat dalil sahih yang secara tegas menetapkan bahwa doa ketika pertama kali melihat Ka’bah pasti dikabulkan. Salah satu riwayat yang populer mengenai hal itu dinilai lemah oleh sejumlah ahli hadis.
Penjelasannya dapat dibaca dalam pembahasan tentang doa ketika melihat Ka’bah.
Di sisi lain, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam artikel tentang doa saat memandang Ka’bah membahas sejumlah bacaan yang tercatat dalam kitab-kitab riwayat. Ini menunjukkan bahwa ada doa yang dapat dikenali dari literatur Islam, meskipun status dan tingkat kekuatan riwayatnya perlu dipahami secara tepat.
Jadi, jamaah tidak perlu merasa wajib membaca satu lafaz tertentu ketika pertama kali melihat Ka’bah. Berdoa dengan permohonan yang baik tetap dapat dilakukan tanpa meyakini bahwa ada bacaan khusus yang menjamin terkabulnya semua permintaan.
2. Bacaan Doa yang Diriwayatkan Saat Melihat Ka’bah
Salah satu doa yang dicantumkan dalam artikel MUI tentang memandang Ka’bah adalah sebagai berikut.
Arab:
اللَّهُمَّ زِدْ هَذَا الْبَيْتَ تَشْرِيفًا وَتَعْظِيمًا وَمَهَابَةً، وَزِدْ مَنْ حَجَّهُ أَوِ اعْتَمَرَهُ تَشْرِيفًا وَتَعْظِيمًا وَتَكْرِيمًا وَبِرًّا
Latin:
Allāhumma zid hāżal-baita tasyrīfan wa ta’ẓīman wa mahābatan, wa zid man ḥajjahu awi’tamarahu tasyrīfan wa ta’ẓīman wa takrīman wa birrā.
Artinya:
“Ya Allah, tambahkanlah kemuliaan, keagungan, dan kewibawaan kepada rumah ini. Tambahkan pula kemuliaan, keagungan, kehormatan, dan kebaikan bagi orang yang menunaikan haji atau umrah ke sana.”
MUI menyebutkan bacaan tersebut dalam artikel Doa saat Memandang Ka’bah di Masjidil Haram, dengan merujuk pada riwayat dalam Al-Mushannaf karya Ibnu Abi Syaibah.
Namun, ada hal yang perlu diperhatikan. Pencantuman sebuah doa dalam kitab riwayat tidak dengan sendirinya berarti setiap ulama menilai sanadnya sahih. Penilaian terhadap riwayat perlu dilihat secara terpisah.
Karena itu, bacaan di atas dapat dikenali sebagai doa yang tercatat dalam literatur Islam, tetapi jamaah tidak perlu menganggapnya sebagai bacaan wajib atau satu-satunya doa yang boleh dipanjatkan ketika memandang Ka’bah.
3. Boleh Berdoa dengan Bahasa Indonesia?
Tentu, jamaah dapat memohon kepada Allah menggunakan bahasa yang dipahami ketika berdoa di luar rangkaian bacaan salat.
Tidak semua jamaah fasih membaca bahasa Arab. Ada yang hanya menghafal beberapa doa pendek, sedangkan ada pula yang ingin menyampaikan permohonan secara lebih panjang dengan bahasa sendiri.
Hal tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk merasa minder atau takut berdoa. Jamaah dapat memohon ampunan, meminta kesehatan, mendoakan orang tua, dan mengungkapkan berbagai kebutuhan kepada Allah dengan kata-kata yang dipahami.
Sebagai contoh, jamaah dapat berdoa:
“Ya Allah, terima kasih karena Engkau telah memberi saya kesempatan untuk sampai di Baitullah. Ampunilah dosa saya dan keluarga saya. Mudahkan seluruh rangkaian ibadah umrah saya, berikan kesehatan selama berada di Tanah Suci, dan jadikan perjalanan ini sebagai jalan untuk memperbaiki diri.”
Doa tersebut hanyalah contoh susunan permohonan, bukan bacaan khusus yang ditetapkan untuk pertama kali melihat Ka’bah.
Jamaah juga dapat menambahkan permohonan untuk keluarga, pasangan, anak, orang tua, atau siapa pun yang ingin didoakan.
Yang terpenting, jangan sampai terlalu sibuk menghafal bacaan hingga kehilangan kesempatan untuk berdoa dengan penuh kesungguhan.
4. Doa Apa Saja yang Bisa Disiapkan Sebelum Berangkat Umrah?
Salah satu cara agar tidak kebingungan ketika tiba di Masjidil Haram adalah menyiapkan daftar doa sejak masih di rumah.
Persiapan ini tidak berarti jamaah harus membaca seluruh daftar secara berurutan. Tujuannya hanya untuk membantu mengingat hal-hal yang ingin dimohonkan kepada Allah.
Berikut beberapa tema doa yang dapat disiapkan.
Memohon ampunan. Perjalanan umrah dapat menjadi kesempatan untuk memperbanyak istigfar dan memohon agar Allah mengampuni kesalahan yang pernah dilakukan.
Memohon kesehatan dan kemudahan ibadah. Jamaah dapat meminta kekuatan fisik, keselamatan perjalanan, dan kemudahan menyelesaikan rangkaian manasik.
Mendoakan orang tua dan keluarga. Doa dapat mencakup kesehatan, perlindungan, rezeki yang baik, dan hubungan keluarga yang semakin harmonis.
Memohon kebaikan dunia dan akhirat. Jamaah dapat menggunakan doa-doa Al-Qur’an yang telah dikenal, seperti permohonan kebaikan dunia dan akhirat dalam Surah Al-Baqarah ayat 201.
Memohon agar amal diterima. Selain meminta berbagai kebutuhan, jamaah dapat berdoa agar Allah menerima ibadah yang telah dikerjakan dan memberi kesempatan untuk terus memperbaiki diri.
Tidak ada keharusan menyampaikan seluruh permohonan pada satu momen. Jamaah dapat berdoa kapan saja selama berada di Tanah Suci.
5. Jangan Sampai Terlalu Sibuk Mencari Doa hingga Melupakan Adab
Ketika pertama kali melihat Ka’bah, suasana di Masjidil Haram bisa sangat ramai. Banyak jamaah ingin berhenti sejenak untuk berdoa atau mengambil foto.
Namun, ada baiknya jamaah tetap memperhatikan kondisi di sekitarnya. Jangan berhenti mendadak di jalur pergerakan, menghalangi orang lain, atau memaksakan posisi tertentu hanya demi mendapatkan pemandangan terbaik.
Jika ingin berdoa lebih lama, pilih tempat yang tidak mengganggu jamaah lain dan ikuti arahan petugas. Tidak perlu mendesak orang di sekitar hanya karena ingin menyelesaikan daftar doa.
Perhatikan pula bahwa tawaf memiliki tata cara tersendiri. Jika hendak memulai tawaf, persiapkan diri untuk mengikuti alur pergerakan dan menjaga keselamatan bersama.
Kekhusyukan tidak selalu ditentukan oleh seberapa lama seseorang berdiri di satu tempat. Jamaah tetap dapat berdoa dengan sungguh-sungguh sambil menjaga adab dan ketertiban.
Dengan cara ini, pengalaman melihat Ka’bah dapat menjadi momen yang bermakna tanpa mengabaikan kenyamanan orang lain.
6. Benarkah Doa Pertama Kali Melihat Ka’bah Pasti Dikabulkan?
Klaim ini perlu diluruskan agar jamaah tidak memiliki harapan yang didasarkan pada informasi yang belum kuat.
Tidak tepat memastikan bahwa seluruh doa pada saat pertama melihat Ka’bah pasti terkabul karena tidak ada dalil sahih yang secara tegas menetapkan jaminan tersebut.
Namun, hal itu bukan berarti jamaah sebaiknya melewatkan kesempatan berdoa. Sebaliknya, jamaah dapat memanfaatkan momen tersebut untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menyampaikan permohonan dengan penuh harap.
Dalam ajaran Islam, seorang Muslim dianjurkan berdoa dan tidak berputus asa dari rahmat Allah. Doa juga dapat dipanjatkan pada berbagai waktu, bukan hanya ketika pertama kali melihat Ka’bah.
Karena itu, jangan merasa permohonan akan kehilangan kesempatan apabila tidak sempat disampaikan tepat saat Ka’bah terlihat. Jamaah masih dapat berdoa sepanjang perjalanan ibadah.
Penting pula untuk tidak menghakimi doa seseorang berdasarkan hasil yang terlihat. Terkabulnya doa merupakan urusan Allah, sedangkan manusia tetap diperintahkan untuk berusaha, berdoa, dan berharap kepada-Nya.
7. Persiapan Sederhana agar Momen Pertama Melihat Ka’bah Lebih Bermakna
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan sebelum memasuki Masjidil Haram untuk pertama kali.
Pertama, pelajari tata cara umrah agar tidak kebingungan ketika memulai tawaf. Kedua, siapkan doa-doa yang ingin dipanjatkan, tetapi jangan merasa wajib menghafal bacaan khusus yang belum jelas dasarnya.
Selanjutnya, simpan barang dengan baik dan perhatikan kondisi rombongan. Jika berangkat bersama keluarga, pastikan semua anggota memahami titik pertemuan dan arahan pembimbing.
Ketika akhirnya melihat Ka’bah, berikan waktu kepada diri sendiri untuk menghayati momen tersebut. Tidak perlu terburu-buru mengikuti apa yang dilakukan jamaah lain.
Jika ingin menangis, berdoa, atau sekadar terdiam karena terharu, biarkan pengalaman itu berlangsung secara wajar. Tidak ada kewajiban menunjukkan reaksi tertentu agar momen tersebut dianggap istimewa.
Yang terpenting adalah memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperkuat niat beribadah dan memohon pertolongan Allah dalam menjalani perjalanan.
Melihat Ka’bah, Menguatkan Doa, dan Menjaga Harapan kepada Allah
Momen pertama melihat Ka’bah dapat menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Namun, jamaah tidak perlu terbebani oleh anggapan bahwa ada satu doa wajib yang harus dibaca atau bahwa seluruh permintaan pada saat itu pasti terkabul.
Sejumlah bacaan memang tercatat dalam literatur Islam, tetapi status riwayatnya perlu dipahami dengan cermat. Jamaah dapat membaca doa yang diketahui, berzikir, atau memohon dengan bahasa yang dipahami.
Persiapan yang baik membantu jamaah menjalani momen ini dengan lebih tenang. Pelajari manasik, siapkan permohonan yang ingin disampaikan, dan tetap jaga adab di Masjidil Haram.
PT Hajar Aswad Mubaroq mengajak jamaah mempersiapkan perjalanan umrah dengan bekal pengetahuan yang benar, agar ibadah dijalankan dengan lebih yakin dan tidak mudah terbingung oleh informasi yang belum jelas sumbernya.
Semoga Allah memberi kesempatan kepada kita untuk berkunjung ke Baitullah, menerima ibadah yang dilakukan, dan mengabulkan doa-doa yang membawa kebaikan di dunia maupun akhirat. Aamiin.
Sumber rujukan: MUI — Doa saat Memandang Ka’bah dan IslamQA — Dasar doa ketika melihat Ka’bah.