Salah satu bagian Ka’bah yang paling dikenal jamaah adalah Hajar Aswad. Batu ini berada di sudut Ka’bah dan menjadi penanda awal serta akhir setiap putaran tawaf.
Banyak jamaah berharap bisa mendekat dan menciumnya ketika menjalankan umrah. Namun, tidak semua orang mengetahui alasan di balik amalan tersebut.
Kisah Hajar Aswad tidak hanya berkaitan dengan sejarah Ka’bah. Batu ini juga mengajarkan umat Islam tentang ketaatan kepada Rasulullah SAW.
Apa Itu Hajar Aswad?
Hajar Aswad berarti batu hitam. Letaknya berada di salah satu sudut Ka’bah, di Masjidil Haram, Makkah.
Batu ini menjadi salah satu penanda penting dalam ibadah tawaf. Jamaah memulai dan mengakhiri putaran tawaf dengan sejajar pada sudut tempat Hajar Aswad berada.
Menurut Saudipedia, Hajar Aswad telah menjadi bagian dari sejarah Ka’bah sejak masa pembangunan yang dikaitkan dengan Nabi Ibrahim AS. Batu ini juga mengalami berbagai peristiwa dan perawatan sepanjang sejarah. (Saudipedia)
Karena kedudukannya tersebut, Hajar Aswad memiliki tempat khusus dalam tradisi ibadah haji dan umrah.
Mengapa Jamaah Ingin Menciumnya?
Rasulullah SAW pernah mencium Hajar Aswad. Karena itu, mencium batu tersebut menjadi amalan yang dikenal dalam pelaksanaan tawaf.
Salah satu riwayat penting berasal dari Umar bin Khattab RA. Ketika mencium Hajar Aswad, beliau menjelaskan bahwa batu itu tidak dapat memberi manfaat atau mudarat dengan sendirinya.
Beliau tetap menciumnya karena pernah melihat Rasulullah SAW melakukan hal yang sama. Riwayat tersebut tercantum dalam Sahih al-Bukhari nomor 1597. (Sahih al-Bukhari 1597)
Dari sini, kita dapat memahami alasan di balik amalan tersebut. Umat Islam melakukannya sebagai bentuk mengikuti tuntunan Rasulullah SAW, bukan karena menganggap batu itu sebagai sesuatu yang disembah.
Apakah Mencium Hajar Aswad Wajib?
Tidak. Mencium Hajar Aswad bukan rukun umrah.
Amalan ini merupakan sunah dalam tawaf apabila memungkinkan. Karena itu, jamaah tidak perlu memaksakan diri jika area di sekitarnya sedang padat.
Tawaf tetap dapat dilakukan tanpa mencium atau menyentuh Hajar Aswad. Jamaah cukup menjalankan tawaf dengan mengikuti ketentuan yang telah dipelajari saat manasik.
Hal ini penting untuk dipahami, terutama bagi jamaah yang baru pertama kali ke Masjidil Haram. Jangan sampai keinginan melakukan satu amalan sunah membuat kita mengabaikan keselamatan diri dan orang lain.
Jangan Memaksakan Diri Saat Kondisi Ramai
Area di sekitar Hajar Aswad dapat menjadi sangat padat pada waktu tertentu.
Banyak jamaah ingin mendekat dalam waktu bersamaan. Akibatnya, pergerakan di sekitar sudut Ka’bah bisa menjadi lebih sulit.
Karena itu, hindari mendorong atau menyakiti jamaah lain demi menyentuh batu tersebut. Ikuti arahan petugas dan pembimbing selama tawaf.
Jika tidak memungkinkan untuk mendekat, jamaah dapat meneruskan tawaf dengan tertib. Tidak perlu merasa ibadahnya kurang hanya karena tidak berhasil mencium Hajar Aswad.
Yang utama adalah menjalankan ibadah sesuai tuntunan dan menjaga adab.
Apa yang Dilakukan Jika Tidak Bisa Menyentuhnya?
Jamaah tetap dapat menjalankan tawaf dengan baik meskipun tidak menyentuh Hajar Aswad.
Ketika sejajar dengannya, ikuti tuntunan yang telah dipelajari saat manasik atau arahan pembimbing. Setelah itu, lanjutkan tawaf tanpa berhenti terlalu lama atau menghalangi arus jamaah.
Tidak perlu mengejar posisi paling dekat. Kondisi setiap jamaah berbeda, termasuk kemampuan fisik dan keadaan di lapangan.
Dengan mengikuti arahan yang benar, jamaah dapat beribadah dengan lebih tenang.
Menghormati Hajar Aswad Bukan Berarti Menyembahnya
Kisah Umar bin Khattab RA memberi pelajaran penting tentang pemahaman ibadah.
Beliau menunjukkan bahwa tindakan mencium Hajar Aswad dilakukan karena mengikuti Rasulullah SAW. Batu itu sendiri tidak dianggap memiliki kuasa untuk memberi manfaat atau mendatangkan bahaya.
Karena itu, umat Islam perlu memahami makna amalan yang dilakukan. Jangan hanya meniru gerakan tanpa mengetahui dasarnya.
Pengetahuan ini juga membantu jamaah menjelaskan kepada keluarga atau teman yang belum pernah menjalankan umrah. Hajar Aswad dihormati sebagai bagian dari syiar ibadah, bukan disembah.
Tawaf Lebih dari Sekadar Mengelilingi Ka’bah
Ketika menjalankan tawaf, jamaah bergerak mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran. Hajar Aswad menjadi salah satu penanda dalam rangkaian tersebut.
Namun, makna tawaf tidak berhenti pada gerakan fisik. Jamaah juga berusaha menjaga hati, memperbanyak zikir, dan mengingat Allah SWT selama beribadah.
Karena itu, jangan sampai seluruh perhatian hanya tertuju pada keinginan menyentuh Hajar Aswad. Gunakan waktu untuk berdoa dan menjaga kekhusyukan.
Utamakan Ibadah dan Jaga Sesama Jamaah
Hajar Aswad memiliki sejarah panjang dan kedudukan khusus dalam ibadah tawaf. Namun, jamaah tetap perlu memahami batasan dan adab ketika berusaha mendekatinya.
Mencium Hajar Aswad bukan kewajiban. Jangan memaksakan diri jika keadaan tidak memungkinkan.
Dengan memahami sejarah dan tuntunan ibadah, jamaah dapat menjalankan tawaf dengan lebih tenang. Kita juga bisa menghindari tindakan yang berisiko bagi diri sendiri maupun orang lain.
Semoga Allah SWT memberikan kemudahan kepada setiap jamaah yang beribadah di Masjidil Haram. Semoga setiap putaran tawaf menjadi ibadah yang membawa ketenangan dan keberkahan.