Search

Ramadan 2026 di Arab Saudi Lebih Sejuk, Jam Puasa Lebih Pendek

Ramadan 2026 di Arab Saudi menghadirkan suasana yang berbeda dibanding beberapa tahun terakhir. Bulan suci yang berlangsung dari pertengahan Februari hingga pertengahan Maret kali ini bertepatan dengan musim dingin, sehingga suhu udara terasa lebih sejuk dan durasi puasa menjadi lebih singkat.

Kondisi tersebut membuat ibadah puasa terasa lebih nyaman, terutama jika dibandingkan dengan Ramadan yang jatuh pada puncak musim panas ekstrem.


Suhu Dingin Warnai Ramadan di Riyadh dan Wilayah Utara

Berdasarkan laporan Arab News, suhu udara di ibu kota Riyadh selama Ramadan berkisar antara 8 hingga 20 derajat Celcius. Bahkan di wilayah Perbatasan Utara, suhu sempat turun hingga 3 derajat Celcius.

Langit berawan dan hujan ringan yang turun secara berkala turut menjaga suhu tetap rendah di sejumlah daerah. Situasi ini sangat kontras dengan Ramadan beberapa tahun lalu yang berlangsung dalam cuaca panas ekstrem.

Secara kalender, pergeseran musim ini memang wajar terjadi. Kalender Hijriah lebih pendek sekitar 11 hari dibandingkan kalender Masehi, sehingga Ramadan terus bergeser dan secara bertahap jatuh pada musim yang berbeda setiap tahunnya.


Peringatan Cuaca Dingin dan Potensi Badai Petir

Sementara itu, Pusat Meteorologi Nasional Arab Saudi memprediksi cuaca dingin masih berlanjut hingga akhir pekan, khususnya di wilayah utara.

Penurunan suhu juga diperkirakan terjadi di Riyadh, Qassim, dan Provinsi Timur. Selain itu, beberapa wilayah berpotensi mengalami badai petir disertai hujan es, termasuk Najran, Jazan, Aseer, dan Baha.

Kabut diperkirakan muncul di sejumlah daerah, sementara hujan ringan juga berpeluang turun di Al-Jouf, Hail, Qassim, dan Madinah.


Puasa Musim Dingin Lebih Ringan Dibanding Musim Panas

Bagi banyak warga, Ramadan musim dingin memberikan pengalaman berpuasa yang jauh lebih ringan. Durasi siang hari yang lebih pendek membuat waktu menahan lapar dan haus tidak selama ketika Ramadan berlangsung di musim panas.

Seorang warga asal India yang telah lama tinggal di Riyadh mengungkapkan bahwa suhu dingin secara signifikan mengurangi risiko dehidrasi dan kelelahan saat berpuasa.

Hal serupa dirasakan oleh warga lokal. Hari yang lebih pendek memungkinkan waktu berbuka tiba lebih cepat, sehingga umat Muslim tidak terlalu lama terpapar panas.

Selain itu, suhu yang nyaman membuat masyarakat lebih leluasa beraktivitas di luar ruangan, baik sebelum maupun setelah berbuka puasa. Beberapa komunitas bahkan memanfaatkan cuaca sejuk untuk menggelar acara buka puasa bersama di ruang terbuka.


Dinamika Sosial Ramadan Ikut Berubah

Fenomena Ramadan 2026 di Arab Saudi menunjukkan bagaimana faktor musim memengaruhi dinamika sosial. Jika pada musim panas masyarakat cenderung membatasi aktivitas luar ruangan karena suhu ekstrem, maka Ramadan musim dingin justru membuka ruang interaksi sosial yang lebih luas.

Cuaca sejuk, jam puasa yang lebih singkat, serta suasana yang lebih bersahabat menjadikan Ramadan tahun ini terasa berbeda dan lebih nyaman bagi banyak orang.

Search