Sejarah Lailatul Qadar sering dikaitkan dengan peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW. Dalam Al-Qur’an, malam Lailatul Qadar disebut sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan, sehingga memiliki kedudukan yang sangat istimewa bagi umat Islam.
Peristiwa Turunnya Wahyu di Gua Hira
Menurut buku 49 Teladan dalam Al-Qur’an karya Ririn Rahayu Astutiningrum, Al-Qur’an pertama kali diturunkan ketika Nabi Muhammad SAW sedang berkhalwat di Gua Hira yang terletak di Jabal Nur, dekat Kota Makkah.
Peristiwa ini diyakini terjadi pada 17 Ramadan ketika Nabi Muhammad berusia 40 tahun.
Dalam buku Sejarah Terlengkap Nabi Muhammad SAW karya Abdurrahman bin Abdul Karim dijelaskan bahwa Gua Hira merupakan sebuah liang sempit yang hanya dapat ditempati sekitar tiga orang.
Dari dalam gua tersebut terlihat pemandangan pegunungan dan Kota Makkah.
Salah satu keistimewaan Gua Hira adalah pemandangan terbuka ke arah langit di bagian atas serta arah Ka’bah di bagian bawah. Namun untuk mencapai tempat ini diperlukan usaha besar karena lokasinya berada di ketinggian gunung.
Masa Perenungan Nabi Muhammad
Di Gua Hira, Nabi Muhammad SAW sering menyendiri untuk beribadah dan merenung.
Beliau memikirkan tentang penciptaan langit, bintang, dan seluruh makhluk yang ada di alam semesta.
Aktivitas perenungan ini berlangsung sejak usia sekitar 30 hingga 40 tahun dan dipandang sebagai masa persiapan sebelum beliau diangkat menjadi nabi.
Wahyu Surah Al-Alaq
Di tempat inilah Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama melalui perantaraan Malaikat Jibril.
Wahyu tersebut adalah Surah Al-Alaq ayat 1–5 yang berisi perintah untuk membaca.
Perintah membaca ini tidak hanya dimaknai secara harfiah, tetapi juga sebagai dorongan untuk mencari ilmu dan memahami pengetahuan.
Melalui wahyu tersebut, Nabi Muhammad SAW juga diperintahkan untuk menyampaikan kepada umat manusia bahwa hanya ada satu Tuhan serta mengajak mereka mengikuti petunjuk Al-Qur’an.
Keutamaan Malam Lailatul Qadar
Dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir disebutkan sebuah riwayat tentang keutamaan malam Lailatul Qadar.
Diceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah menyebut empat orang dari Bani Israil yang beribadah kepada Allah selama 80 tahun tanpa melakukan maksiat, yaitu Nabi Ayyub, Nabi Zakariya, Hizqil bin Ajuz, dan Yusya bin Nun.
Para sahabat merasa kagum dengan ketekunan ibadah tersebut.
Kemudian Malaikat Jibril menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad SAW:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam kemuliaan. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS Al-Qadr: 1–3)
Ayat ini menunjukkan bahwa Lailatul Qadar memiliki keutamaan luar biasa dibandingkan ibadah selama puluhan tahun.
Anjuran Mencari Lailatul Qadar
Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk mencari malam Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.
Beliau bersabda:
“Carilah Lailatul Qadar pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadan.” (HR Bukhari dan Muslim)
Doa Malam Lailatul Qadar
Pada malam Lailatul Qadar, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa dan memohon ampun kepada Allah.
Doa yang diajarkan Rasulullah SAW adalah:
Allahumma innaka ‘afuwwun kariim, tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii.
Artinya:
“Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Maha Mulia. Engkau menyukai memberi maaf, maka maafkanlah aku.”